Lajnah Dakwah Ponpes Imam Bukhari
Jl. Raya Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton,Gondangrejo,Karanganyar Solo 57183

Saatnya Berdzikir

0

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hadid/ 57: 16)

Makna Ayat

Ketika kaum Muslimin mendapatkan kehidupan yang mencukupi dan antusias sekelompok kaum Muslimin dalam kekhusyu’an hati mulai dirasa luntur, Allâh menegur kaum Mukminin, bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk menghadirkan hati yang khusyu’ dan tunduk. Sehingga ketika disebut nama Allâh, atau dibacakan al-Quran dan wejangan dan nasihatnya, hati akan menjadi tersentuh, tergerak untuk mengaplikasikannya secara lahir dan batin. Tunduk pada kebenaran yang dibawa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini mendorong kaum Mukminin agar benar-benar khusyuk tunduk pada Allâh, patuh pada al-Quran dan as-Sunnah; senantiasa ingat dengan hukum-hukum dan wejangan syariat.

Allâh Ta’ala juga memperingatkan mereka jangan sampai menyerupai ahlul kitab yang hati mereka membatu ketika jarak mereka dengan nabi mereka semakin jauh. Para ahli kitab makin lama semakin berpaling dari perintah agama, sehingga iman dan keyakinan mereka tergerus dan pupus. Banyak di antara mereka yang menjadi fasik, hati mereka rusak dan keras, amal merekapun gugur.

Orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab, yaitu orang-orang yahudi dan nasrani. Ketika berlalu jangka waktu yang panjang, hati-hati mereka membatu. Tidak mau menerima kebenaran dari Allâh Ta’ala , bahkan merubah-rubah kitab mereka sesuai hawa nafsu mereka.

Ibnu Abbas berkata, “Kaum Mukminin ditegur oleh Allâh Ta’ala dengan ayat ini setelah 13 tahun dari turunnya al-Quran.” Dan Fudhail bin Iyadh mendengar ayat ini dibacakan, lalu iapun berkata, “Ya, telah tiba saatnya. Maka itupun menjadi sebab taubatnya kepada Allâh.[1]

Ibnu Mas’ud berkata, “Rentang waktu antara Islam kami dan teguran Allâh dengan ayat ini tidak lain adalah empat tahun.[2]

Ibnu Katsir berkata bahwa Allâh melarang kaum Mukminin untuk meniru-niru mereka yang telah diberikan kitab. Ketika telah berlalu masa yang panjang, mereka merubah kitab Allâh yang ada pada mereka. Mereka menjualnya dengan harga yang sedikit, dan  mereka campakkan kitab mereka.[3]

Ayat ini adalah peringatan keras terhadap kaum Mukminin agar tidak mengikuti mereka. Ketika telah jauh dari masa risalah nabi, mereka merubah kitab mereka. Mereka lebih cenderung kepada pendeta mereka, dan mereka jadikan sebagai tuhan selain Allâh Ta’ala . Mereka sudah tidak terkesan dan tidak tersentuh dengan nasihat dan wejangan, tidak terpengaruh dengan janji dan ancaman Allâh. Mereka rubah kitab mereka, dan jadilah mereka mengikuti hawa nafsu mereka.

Maka menjadi kewajiban umat ini untuk selalu teguh berpegang pada al-Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Meski berlalu masa yang berabad-abad dari masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun tetap tegar di atas kebenaran Ilahi, dengan khusyu’ hati beribadah kepada-Nya. Dan agar kaum Muslimin selalu menyirami hatinya dengan siraman al-Quran dan Sunnah, tidak boleh lengah darinya. Karena lengahnya hati, menjadi sebab kerasnya hati. Wal ‘iyâdzu billah.

Pelajaran dari Ayat

Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini, beliau membawakan penjelasan yang memuat tentang berbagai pelajaran dan faidah yang bisa diambil dari ayat ini. Beliau berkata:[4]

Dalam ayat ini Allâh menerangkan bahwa menjadi keharusan bagi orang-orang beriman agar hati mereka khusyu’ tunduk mengingat Allâh dan al-Quran. Juga agar mereka tidak menjadi seperti orang-orang terdahulu yang telah diberikan kitab, lalu berlalu masa yang panjang, sehingga hati mereka keras  membatu, dikarenakan jauhnya mereka dari zaman risalah nabi-nabi mereka. Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa awal dari suatu umat itu lebih baik dan lebih khusyu’ tunduk dibandingkan generasi akhir dari umat. Itu karena dekatnya generasi awal dari risalah nabi. Dan itu seperti yang ditegaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku; kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.[5]

Dalam ayat tersebut juga terdapat celaan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena hati mereka telah mengeras, disebabkan telah berlalu atas mereka rentang waktu yang begitu panjang.

Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allâh Ta’ala sangat sempurna keadilannya dalam menghukumi mereka. Dalam ayat tersebut Allâh Ta’ala menegaskan bahwa “banyak di antara mereka yang fasik“. Allâh tidak menghukumi secara generalisir, tidak menghukumi semua mereka sebagai orang fasik. Dan inilah yang menjadi kewajiban atas orang yang sedang memperbincangkan suatu kaum. Ia harus menjelaskan fakta dan realita yang ada. Mengingat, sebagian orang bila melihat ada suatu kesesatan dalam sebagian person suatu kaum, terkadang ia menghukumi secara keseluruhan, menimpakan hukum pada semua individu kaum itu. Padahal yang menjadi kewajiban adalah berlaku adil. Bila kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik, maka katakanlah bahwa kebanyakan mereka fasik. Bila banyak dari mereka yang sebaliknya, maka pun diungkapkan demikian, sesuai dengan tuntutan keadaannya. Sebab adalah suatu hal yang wajib, agar seseorang berlaku adil, meskipun terhadap dirinya sendiri, dua orang tua, ataupun orang-orang terdekat.

Footnote :


[1] At-Tashîl li Ulûm at-Tanzîl 2/413.

[2]  At-Tashîl li Ulûm at-Tanzîl 2/413.

[3] Lihat Umdat at-Tafâsîr 3/ 456.

[4] Tafsir al-Quran oleh Syaikh al-Utsaimin Surat al-Hadid, hlm. 391.

[5] HR. al-Bukhari kitab asy-Syahaadaat no 2652, Muslim dalam kitab fadhail ash-shahabah no 2533.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.